Kenali perasaanmu saat engkau bertemu dengan Tuhan

Satu titik dimana kamu merasa berada pada garis serendah-rendahnya. Terdengar lebay. But so sad indeed. Titik yang rasanya lebih dari tusukan hingga menjatuhkanmu dan air mata mu saja tidak cukup. Titik yang sangat berat hingga memberikan beban di paru-parumu, bernapas pun tidak membuatnya lega.

Kamu merasa orang yang paling berbeban berat sedunia. Merasa paling lemah. Satu titik yang membuatmu hanya bisa diam. Ibukota ini ramai. Tapi rasanya se-sepi-sepinya. Duduk sendiri memandang cakrawala yang jauh di depan tak ada habisnya. Berbicara tanpa ada lawan bicara. Yang ada hanya tanda tanya tanpa memberikan tanda koma perhentian sejenak dan tak membiarkan titik di akhirnya. Terlalu banyak pertanyaan. Terlalu banyak praduga. Terlalu banyak. Tak ada habisnya seperti cakarawala. Susah dituangkan.

Honestly, aku tak menyukai saat-saat seperti ini. Lemah selemah-lemahnya. Sangat mudah menjatuhkan air mata. Susah untuk ku tunjukkan pada orang lain. Tapi tak bisa ditahan jika ku bawa hati yang hancur kepada-Nya. Masuk ke dalam rumah-Nya saja bisa membuatku dengan mudahnya menjatuhkan air mata. Berkali-kali jatuh. Jika sepi ibadah minggu itu, mungkin ku tumpahkan tanpa malu aku sedang melemah. Sometimes I ask myself. Is it me? Do you cry meeen?

Aku yakin bukan cuma aku. Aku yakin masalahku bukan yang paling berat. Malu jika harus menangis untuk masalah-masalah ini. Semua orang punya masalahnya sendiri masing-masing.

Teringat dengan kata pendeta minggu itu.
"Kenali perasaanmu saat engkau bertemu dengan Tuhan. Pengalaman hidupmu yang mengajarkan tidak boleh cengeng dan penuh dengan tanggung jawab, tidak berarti menjadikan engkau tidak boleh menangis".
Ku pikir, ya itu benar. Lalu kepada siapa lagi kita mengadu ketika perasaanmu susah untuk dituangkan? Kepada siapa lagi tempat kita berserah?
Jemaat sebanyak itu tiba-tiba rasanya menghilang. Khotbah itu seperti aku dan Tuhan duduk berdua. Tuhan yang sedang berkata-kata, menjawab ku ketika duduk sendiri seperti biasa. Dan air mata semakin jatuh sejatuh-jatuhnya tidak peduli siapa di sampingku saat itu.

Categories: Share

Leave a Reply