Monolog Cinta

2/5/14

"Mengerti diri sendiri itu jauh lebih rumit dari mengerti apapun"
Sepertinya ada yang salah di otakku.

Mengapa aku mencintai kesendirian?
Mengapa sendiri itu menyenangkan? Katanya hidup sendiri

3/6/14


Sembari menunggu dosen, curhat nang HP dewek bae lah  hahahaha

Ini tentang hidup. Tentang cinta juga...Ntah mindset ntah tidak...
Ntah kenapa jatuh cinta sungguh tak menarik. Bisa dikatakan, tak pernah, dan tak tersentuh. 

Bicara tentang mindset, dulu aku punya teman SMP. Sekelas lah. Cewe. Namanya Artha. This is ambisious girl. Calm. And Einstein addict (menurut ku). Pernah suatu ketika kita mengobrol tentang pacar, suami, atau apalah itu aku sedikit lupa. Intinya cowo. Ternyata pikirannya sama dengan ku. Dia pengen pacaran sekali seumur hidup, dan itulah suaminya kelak. Wow! Amazing. Ku kira pemikiran kayak gini sudah amat sangat langka. 

4/6/14

Sekilas tentangnya:
Ntah apa kabarnya, apa sudah menemukan pacar (calon suaminya) atau belum, yang ku tahu kabar terakhir darinya hanyalah pergi ke China untuk pertukaran pelajar. Proud of you guys. Poor of me yang cuma gini-gini aja.

Ketika anak kemarin sore menjadi remaja labil menghabiskan waktunya meneriaki pujaan hatinya, aku menghabiskan waktu ku dengan menikmati awal pubertas tanpa pujaan, malah sibuk merancang masa depan. Seminim-minimnya menentukan SMA di mana aku kelak.

Ntah apa yang ada di otak ku, bahkan SD kelas 2 pun, aku sudah cukup matang memperhitungkan tentang masa depan dengan sahabat SD ku. Borisma Novelia. Kita berjanji saat itu akan masuk ke SMA Plus Soposurung yang ada di Balige.

Kembali ke masa SMP. Setelah lulus SD, aku lulus di SMP N 1, sedangkan Novel do SMP N 3 (her mom is teacher in there). Ketika mau lulus, kita udah sibuk dengan akan SMA kemana kita kelak. Aku bingung  saat itu, antara mengikuti janji anak SD dulu yang lugu di Soposurung atau malah ikut teman dan tradisi kakak kelas ke SMA Matauli di Sibolga sana. Ternyata Boros a.k.a Novel memutuskan mencoba Matauli. Aku pun sudah mengisi formulir saat itu. Kalau ga salah, ada 9 orang dari sekolah yang kesana. And what??? Melanjut kesana pupus. Lebaynya hanya impian. Aku ga dibolehkan meeeen. Merantaunya nanti aja. Waktu udah kuliah. Begitu nasihat  mama, kakak, dan abang. Oh my... I got broken heart.

Tadaaaaaa...
Setelah lulus SMP, aku beranjak semakin dewasa. Walau masih dianggap belum ngerti apa-apa, tapi aku semakin bertumbuh. Lagi lagi pubertas yang semakin menjadi di kalangan anak SMA, aku terlalu asik dengan impianku. Cinta dan jatuh cinta sungguh tak menarik. Ketika teman sebaya menyimpan rasa cinta diam-diam, menyatakan cinta blak-blak-an, berantem karena pacar, merasakan cinta yang terbalas, atau patah hati karena cinta yang tak terbalas, itu sungguh tak menarik.

Aku hanya mengerti dan mendengar cinta sebatas telinga. Menjadi pendengar setia teman yang mereka rasa itu cinta. Ada beberapa cowo menarik mata, tapi tak cukup hebat untuk menarik hati. Hanya mengagumi. Itu pun cuma 1, dan itu pun mengagumi secara paksa. Biar ada cerita di masa SMA, setidaknya ada 1 cowo yang menarik perhatian. [Sedikit]...

Pacaran sungguh tak menarik dan tak memiliki arti untuk anak semuda itu. Kayak kata orang tua jaman dulu. Hahahaha...
Ntah itu mindset atau tidak. Pubertas dan indahnya jatuh cinta sungguh jauh dari pikiran. Aku hanya ingin bermimpi tentang luasnya dunia!!! Bersama sahabat ku (LG) hingga kini, kita merancang masa depan. Bersama Widy, masuk STAN, karier, berpenghasilan ketika teman yang lain masih kuliah, menikah daaaaaan...??? Kita jauh dari STAN kenyataannya. Tapi aku yakin kita ddekat dengan garis sukses :) Dia di Ekonomi Pembangunan USU (Medan) dan aku Pertanian UNSOED (Purwokerto). Berjuang kawan! 1001 cara menuju Raja Ampat hahaha...

Finally aku bisa dibilang cukup dewasa. Menginjak bangku perkuliahan dan menjabat sebagai mahasiswa semester 6 buka anak-anak lagi. Hampir  3 tahun di sini. Dan lagi lagi aku tak tersentuh dan tak tertarik cinta. Bahkan tak ada 1 cowo pun yang membuatku sekedar iseng penasaran, ntah itu siapa namanya, fakultaas apa, di mana kos nya, single or plural (=cewenya banyak) hahahaha... Ketika teman merasa suah yakin akan doi untuk ke jenjang hubungannya  yanv lebih lanjut, dalam hati  terkadang aku hanya tertawa sinis, cinta macam apa ini di umur yang terlalu dini untuk menentukan pasangan hidup (bagi ku). Kadang... hahaha

Banyak hal yang ingin ku sampaikan dan sulit untuk ku tuangkan, dan aku (aku yakin) tak ada yang sependapat dengan ku (maka ku pendam saja). Mungkin aku terlalu menikmati bahagia sendiri. Variabel bebas yang tidak terikat. Aku terjebak dengan kesendirian. Guess what??? Aku tak ingin menikah! Siapapun yang membaca ini pasti ada yang pro (sedikit) dan kontra (sangat banyak). 

Namanya Standy. Dia makhluk sosialis pake banget. Aku suka pemikirannya. Beberapa minggu  yang lalu, pernah di suatu media sosial (Facebook), ntah itu benar ntah tidak, intinya dia tidak ingin menikah. Pengen rasanya ngobrol banyak tentang ini, tentang ke-abnormal-an ini, keanehan ku yang tak tersentuh cinta, tentang hidup, tentang masa depan, tentang pasiion. Karna sepertinya cuma sama bang Standy yang mampu memberi pencerahan tentang pertanyaan ku selama ini. Aku mengagumi nya. Dia abang di perantauan, walau kami tak sering mengobrol.

Ntah kenapa cerita tentang cinta sungguh membuatku mual. hahaha
Aku hanya ingin jatuh cinta ketika aku siap. Aku bekerja, aku berpenghasilan, dan doi (calon) juga begitu. Memantaskan diri dulu. So I get the best people. Untuk pertama dan terakhir (insyaallah) kelak. Tapi jika aku mengizinkan aku jatuh cinta hahahahaha

Categories: Share

Leave a Reply